Jumat, 04 Maret 2016
Senin, 12 Januari 2015
17. S I L U E T
Ada siluet indah di depan mataku
Yang menari di antara cahaya bulan purnama
Yang terus membayangi alam sadarku
Yang Membuatku terlena dalam dekapan malam
Bulan dengan sinarnya yang begitu indah
Berkilau pucuk daun meliuk dihembus angin sepoi
Terbaring tengadah di hamparan rumput
Memandang bulan berharap terlelap dibuai mimpi tentangmu
Di antara kedip bintang
Ku bicara sendiri sampaikan goresan ungkapan hati
Di mana engkau wahai kekasih hati
Rindu menari dalam nyanyian sunyi
Di saat siluet jelmaanmu menjauh
Kuratapi kehilangan yang membawa hati begitu perih
Karena kau adalah keindahan yang tercipta
Yang selalu meyinari kegelapan
Kau adalah ukiran maha karya sang pencipta
Tinggalah barang sejenak
Temani aku dalam kegelapan malam ini
Tapi kau tetap pergi dalam diam
tinggalkan sejengkal rasa sepi
Dalam alunan nyanyian sunyi yang kau bisikkan
10 Januari 2015
Ada siluet indah di depan mataku
Yang menari di antara cahaya bulan purnama
Yang terus membayangi alam sadarku
Yang Membuatku terlena dalam dekapan malam
Bulan dengan sinarnya yang begitu indah
Berkilau pucuk daun meliuk dihembus angin sepoi
Terbaring tengadah di hamparan rumput
Memandang bulan berharap terlelap dibuai mimpi tentangmu
Di antara kedip bintang
Ku bicara sendiri sampaikan goresan ungkapan hati
Di mana engkau wahai kekasih hati
Rindu menari dalam nyanyian sunyi
Di saat siluet jelmaanmu menjauh
Kuratapi kehilangan yang membawa hati begitu perih
Karena kau adalah keindahan yang tercipta
Yang selalu meyinari kegelapan
Kau adalah ukiran maha karya sang pencipta
Tinggalah barang sejenak
Temani aku dalam kegelapan malam ini
Tapi kau tetap pergi dalam diam
tinggalkan sejengkal rasa sepi
Dalam alunan nyanyian sunyi yang kau bisikkan
10 Januari 2015
Senin, 17 November 2014
12. EMBUN PAGI
Kan kuhapus air mata ini
Kan kuubah duka nestapaku
Karena kutahu, embun pagi kan jatuh tersapu bayu
Kisah sedihku bak embun meluncur turun
Embun, kini kau bukan milikku lagi
Walau rindu senyum lembutmu
Walau hatimu tak selalu untukku
Walau kau bukan milikku lagi
Ketika barisan senja tampak meredup
Bercerminlah purnama
Menadah air mata
Semburat warna pelangi dalam jelaga malam
Burung malam menelisik jejak
Yang dulu tertinggal ditimpa jelaga
Ketika ku sendirian terkurung rindu
Lalu, dimana kau waktu itu?
Raga dahagaku tak lagi terasa
Ribuan nanar membekapku pengap
Sengaja ku sendirian menunggu gelap
Lalu, di mana kau waktu itu?
Di mana kau waktu itu ……….
November 12, 2014
Kan kuhapus air mata ini
Kan kuubah duka nestapaku
Karena kutahu, embun pagi kan jatuh tersapu bayu
Kisah sedihku bak embun meluncur turun
Embun, kini kau bukan milikku lagi
Walau rindu senyum lembutmu
Walau hatimu tak selalu untukku
Walau kau bukan milikku lagi
Ketika barisan senja tampak meredup
Bercerminlah purnama
Menadah air mata
Semburat warna pelangi dalam jelaga malam
Burung malam menelisik jejak
Yang dulu tertinggal ditimpa jelaga
Ketika ku sendirian terkurung rindu
Lalu, dimana kau waktu itu?
Raga dahagaku tak lagi terasa
Ribuan nanar membekapku pengap
Sengaja ku sendirian menunggu gelap
Lalu, di mana kau waktu itu?
Di mana kau waktu itu ……….
November 12, 2014
Selasa, 23 September 2014
Sabtu, 06 September 2014
KERLINGAN SINAR PELANGI
Dalam keputusasaan ……
Seraut wajah menghantui malam-malamku
Desahmu bisa kucium di sudut malam
Ketika kukatakan pada awan hitam dan semilirnya angin
Bahwa aku,
Ingin rebah diharibaan lapang hatimu
Dan menangis di pangkuanmu
Telah kurangkai sederet sair cinta untukmu
Telah kurangkai pula berjuta kata indah untukmu
Kuberharap pinta maafku kan kau terima
Walau kusadar tangisku tak kan merubah perasaanmu
Malamku berangsur usai
Pagi menjelang tiba
Entah berapa hitungan lagi
Mentari kan hadir menyapa
Sekejap mataku nanar dikala bias menguntai birunya langit
Ketika cahaya memudar lantaran kabut tertiup
Bersamanya pula kerlingan sinar pelangi hilang ditelan awan
Lalu …….
Ketika langit berubah pekat
Kudengar suara parau bermakna dendam
Kulepas jiwaku dalam lembah nan suram
Padahal aku dalam jerat cinta buta yang tercampakkan.
1 September 2014
Dalam keputusasaan ……
Seraut wajah menghantui malam-malamku
Desahmu bisa kucium di sudut malam
Ketika kukatakan pada awan hitam dan semilirnya angin
Bahwa aku,
Ingin rebah diharibaan lapang hatimu
Dan menangis di pangkuanmu
Telah kurangkai sederet sair cinta untukmu
Telah kurangkai pula berjuta kata indah untukmu
Kuberharap pinta maafku kan kau terima
Walau kusadar tangisku tak kan merubah perasaanmu
Malamku berangsur usai
Pagi menjelang tiba
Entah berapa hitungan lagi
Mentari kan hadir menyapa
Sekejap mataku nanar dikala bias menguntai birunya langit
Ketika cahaya memudar lantaran kabut tertiup
Bersamanya pula kerlingan sinar pelangi hilang ditelan awan
Lalu …….
Ketika langit berubah pekat
Kudengar suara parau bermakna dendam
Kulepas jiwaku dalam lembah nan suram
Padahal aku dalam jerat cinta buta yang tercampakkan.
1 September 2014
KEABADIAN
Di antara cahaya kemulyaan sorga
Di antara do’a-do’a suci
Di antara pancaran Illahi yang tinggi
Ada bidadari yang hidup dalam keabadian
Yang bercanda di tepi telaga kebahagiaan
Aku menangis meratapi langit
Dengan do’a suci yang menyentuh awan jiwaku
Ya Rob …. Yang Maha Suci dan Maha Agung
Ambillah jiwaku kelak
Tempatkan aku di telaga sorga
Bersama bidadari ciptaanmu, bersama semua yang kukasihi
Di antara cahaya kemulyaan sorga
Di antara do’a-do’a suci
Di antara pancaran Illahi yang tinggi
Ada bidadari yang hidup dalam keabadian
Yang bercanda di tepi telaga kebahagiaan
Aku menangis meratapi langit
Dengan do’a suci yang menyentuh awan jiwaku
Ya Rob …. Yang Maha Suci dan Maha Agung
Ambillah jiwaku kelak
Tempatkan aku di telaga sorga
Bersama bidadari ciptaanmu, bersama semua yang kukasihi
Sabtu, 09 November 2013
Puisi - YATTI SADELI -
Dimuat di Harian Suara Karya Tgl 14 Juni 2014. FATAMORGANA
Di setiap heningku aku menunggu ......
Katakan kau rindu aku,
Katakan kau cinta aku ......
aku di semesta ini untukmu.
Lewat seribu kunang-kunang yang berkedip di malam gelap,
kutitipkan nafasku,
Sesak dadaku meratap
Tak kau rasakah?
Aku yang hampir sekarat menahan rasa yang terbelah.
Kini kau pergi kasih,
Menyisakan luka dalam dada.
Inikah keabadian cinta yang kau tawarkan dulu,
Inikah keindahan yang kau janjikan dulu ....
Di batas kehampaan, tak mungkin aku mengejar bayangmu
Hanya .....
Namamu telah kuukir di atas langit,
Dan kutanam di dalam bumi.
Telah kau kunci rapat pintu hatimu,
Hingga aku tak bisa melihat walau setitik debu.
Aku lelah berlari,
Aku tersesat di rimba raya.
Kau masih di sana, bukan?.
Aku ingin mampir ke pelukanmu tuk mengisi semangat lagi.
Sayangku .....
Aku dikejar suara.
Mengapa hidup tak mengizinkan kita berhenti sesaat tuk bersama?
Kau kah itu?,
Atau hanya fatamorganaku saja .....
Sayangku .....
Kekasih dambaan hatiku,
Lelaki penguasa hatiku,
Kau di rimba juga kan?
Akhir Nov 2013
Dimuat di Harian Suara Karya Tgl 14 Juni 2014. FATAMORGANA
Di setiap heningku aku menunggu ......
Katakan kau rindu aku,
Katakan kau cinta aku ......
aku di semesta ini untukmu.
Lewat seribu kunang-kunang yang berkedip di malam gelap,
kutitipkan nafasku,
Sesak dadaku meratap
Tak kau rasakah?
Aku yang hampir sekarat menahan rasa yang terbelah.
Kini kau pergi kasih,
Menyisakan luka dalam dada.
Inikah keabadian cinta yang kau tawarkan dulu,
Inikah keindahan yang kau janjikan dulu ....
Di batas kehampaan, tak mungkin aku mengejar bayangmu
Hanya .....
Namamu telah kuukir di atas langit,
Dan kutanam di dalam bumi.
Telah kau kunci rapat pintu hatimu,
Hingga aku tak bisa melihat walau setitik debu.
Aku lelah berlari,
Aku tersesat di rimba raya.
Kau masih di sana, bukan?.
Aku ingin mampir ke pelukanmu tuk mengisi semangat lagi.
Sayangku .....
Aku dikejar suara.
Mengapa hidup tak mengizinkan kita berhenti sesaat tuk bersama?
Kau kah itu?,
Atau hanya fatamorganaku saja .....
Sayangku .....
Kekasih dambaan hatiku,
Lelaki penguasa hatiku,
Kau di rimba juga kan?
Akhir Nov 2013
Puisi YATTI SADELI.
Dimuat di Harian Suara Karya tgl 14 Juni 2014
BAYANG KELABU.
Kan kuhapus air mata lara di pelupuk mata ini
Kan kuubah derap tangisku dengan derap bahagia
Karena kupercaya kau ada dan setia,
karena kupercaya cintamu sekuat guntur yang membahana,
sekuat api yang membara.
Walau kini kau jauh dari jangkauku,
karena kau bersama cinta yang lain
Tapi bukan saatnya ku melepasmu,
merelakan pergi di saat cinta ini hadir mengisi hati
Dalam kelamnya malam langkahku terhenti
Sukmaku mencari wujudmu dalam rasa,
mencari suaramu dalam makna yang tak bisa dipahami
Akhirnya ..... ketika langit masih menyapa meski sejenak,
aku mengukur jejak mengejar bayangmu,
cemasku membias karena ketiadaanmu
Aku ingin cerita pada bayangmu,
tentang rinduku padamu,
tentang panjang setiaku padamu,
tentang putihnya hati yang terluka,
juga tentang nestapa yang kurasa tanpamu
Tapi apa yang kutemui pada pengembaraan yang panjang?
Tak lain hanya penat dan dahaga yang menyiksa,
karena yang ada di sana ..... hanya PADANG BAYANG KELABU
Akhir Nov 013
Dimuat di Harian Suara Karya tgl 14 Juni 2014
BAYANG KELABU.
Kan kuhapus air mata lara di pelupuk mata ini
Kan kuubah derap tangisku dengan derap bahagia
Karena kupercaya kau ada dan setia,
karena kupercaya cintamu sekuat guntur yang membahana,
sekuat api yang membara.
Walau kini kau jauh dari jangkauku,
karena kau bersama cinta yang lain
Tapi bukan saatnya ku melepasmu,
merelakan pergi di saat cinta ini hadir mengisi hati
Dalam kelamnya malam langkahku terhenti
Sukmaku mencari wujudmu dalam rasa,
mencari suaramu dalam makna yang tak bisa dipahami
Akhirnya ..... ketika langit masih menyapa meski sejenak,
aku mengukur jejak mengejar bayangmu,
cemasku membias karena ketiadaanmu
Aku ingin cerita pada bayangmu,
tentang rinduku padamu,
tentang panjang setiaku padamu,
tentang putihnya hati yang terluka,
juga tentang nestapa yang kurasa tanpamu
Tapi apa yang kutemui pada pengembaraan yang panjang?
Tak lain hanya penat dan dahaga yang menyiksa,
karena yang ada di sana ..... hanya PADANG BAYANG KELABU
Akhir Nov 013
Puisi YATTI SADELI.
Dimuat di Harian Suara Karya 14 Juni 2014
SEKUNCUP SENYUM.
Sekuncup senyum telah aku lemparkan.
Tapi, apa yang terjadi ...... seperti dalam kemenangan,
membadai emosi yang aku ciptakan.
Lenyap senyum dari bibirku pada saat berdiri di tubir bahaya.
Cintaku menjadi cahaya yang padam oleh waktu.
Melintas wajahmu di mataku dalam diam, lalu ....
menghilang raib tersapu kabut.
Oh, langit .... perkenankan aku, oh bumi izinkan aku,
tuk menggapai ritmis irama cinta yang tak lagi ada.
Dulu .....
Aku sanggup menyangga cakrawala dan menempatkanmu di atasnya,
melewati beribu tangis dan berjuta tawa bersama.
Ketika engkau meninggalkan aku dan meneruskan jalanmu,
aku meratapimu dan menempatkan rupamu dalam hatiku.
Dua puluh delapan tahun ..... alangkah singkatnya waktu.
Kau datang kembali seperti hantu
yang membuat hati ini menjerit kembali.
Adalah bijak ......
Mematahkan hati sendiri tuk seorang yang menjauhkan hatinya.
Aku pun hanya dapat menghapus air mataku,
karena kenangan itu terurai kembali
dan aku membalut sendiri lukaku.
Bandung, akhir Nov 013
Dimuat di Harian Suara Karya 14 Juni 2014
SEKUNCUP SENYUM.
Sekuncup senyum telah aku lemparkan.
Tapi, apa yang terjadi ...... seperti dalam kemenangan,
membadai emosi yang aku ciptakan.
Lenyap senyum dari bibirku pada saat berdiri di tubir bahaya.
Cintaku menjadi cahaya yang padam oleh waktu.
Melintas wajahmu di mataku dalam diam, lalu ....
menghilang raib tersapu kabut.
Oh, langit .... perkenankan aku, oh bumi izinkan aku,
tuk menggapai ritmis irama cinta yang tak lagi ada.
Dulu .....
Aku sanggup menyangga cakrawala dan menempatkanmu di atasnya,
melewati beribu tangis dan berjuta tawa bersama.
Ketika engkau meninggalkan aku dan meneruskan jalanmu,
aku meratapimu dan menempatkan rupamu dalam hatiku.
Dua puluh delapan tahun ..... alangkah singkatnya waktu.
Kau datang kembali seperti hantu
yang membuat hati ini menjerit kembali.
Adalah bijak ......
Mematahkan hati sendiri tuk seorang yang menjauhkan hatinya.
Aku pun hanya dapat menghapus air mataku,
karena kenangan itu terurai kembali
dan aku membalut sendiri lukaku.
Bandung, akhir Nov 013
Jumat, 26 Juli 2013
Kamis, 02 Mei 2013
DI BELANTARA GUNUNG SAWAL adalah novel ke 4 yang diterbitkan oleh Indie Publishing di tahun 2013.
Novel setebal 336 hal ini menampilkan sosok seorang opsir DI-TII. Ia begitu dikagumi orang, dan banyak wanita jatuh cinta padanya. Perawakannya tinggi dengan wajah yang tampan dan cerdas. Tubuhnya berotot dengan mata hitam yang tajam
. Kepribadiannya sangat kompleks. Ia seorang realis yang menyadari segala rintangan yang menghadangnya. Ia sangat gigih memperjuangkan cita-citanya dan sangat loyal terhadap Sang Imam atasannya.
. Kepribadiannya sangat kompleks. Ia seorang realis yang menyadari segala rintangan yang menghadangnya. Ia sangat gigih memperjuangkan cita-citanya dan sangat loyal terhadap Sang Imam atasannya.
Sabtu, 26 Januari 2013
Suara Dari Masa Silam
Ketika Yulia menempati sebuah rumah tua di Perkebunan Mandala, ia tak pernah mengira kalau sebuah jam antik yang ia hidupkan bisa memutar waktu menembus masa lalu. Saat itu sepihan cerita masa lalu terbuka, karena gema suara dari jam itu adalah suara dari masa silam.
Novel ini bercerita tentang kisah cinta antara dua anak manusia: Anna Madellin Hoffler dengan Sebastian yang dirangkai dengan indah
menggunakan kilas balik yang membangkitkan rasa penasaran tentang kehilangan, cinta yang tak kesampaian dan luka hati yang dalam. Karena Anna Madellin Hoffler selalu penasaran ingin menyelamatkan kekasihnya dari hukuman mati.
Novel ini sudah dimuat di majalah Kartini edisi bulan Desember 2010 - Februaru 2011, sebagai cerita bersambung. Bukunya terbit oleh Indie Publising Januaru 2013.
Rabu, 21 November 2012
Telah terbit novel ke dua Judul: Kemilau Cincin Bermata Biru. Karya tulis: Yatti Sadeli. Penerbit: Indie Publishing. Cetakan pertama November 2012.
Novel ini bercerita tentang - Marlia gadis cantik menawan, ketika pergi dari rumah, ia diajak seseorang bekerja pada Tuan Albert penghuni rumah tua di perkebunan teh Subang.
Kisah ini dirangkai dengan indah menggunakan kisah balik yang amembangkitkan bulu roma, tentang kehilangan, cinta yang kandas, luka hati yang dalam dan orang-orang misterius yang ditemui Marlia.
Penulis telah berhasil mempermainkan perasaan pembaca dan menghidupkan tokoh-tokohnya. Siapa sebenarnya Tuan Albert dan para penguasa onderneming lainnya serta Pak Marjo yang membawa Marlia memasuki alam kehidupan mereka .....
Jumat, 26 Oktober 2012
Alhamdulillah, saya penjatkan syukur ke hadirat Allah SWT. Novel "BISIKAN AMALIA" telah terbit menjadi buku novel oleh INDIE PUBLIHING. Novel setebal 220 hal tersebut bercerita tentang pembalasan paling keji yang dilakukan seorang laki-laki terhadap puteri seorang pengusaha ternama.
Amanda, putri Pak Herman seorang pengusaha kaya-raya. Suatu hari diculik dan dibawa ke suatu tempat yang sangat jauh. Ia disekap di sebuah kamar gedung di sebuah perkebunan teh.
Pertama-tama Amanda tidak tahu siapa yang menculik dan kenapa ia diculik. Setelah sembilan hari terkurung di kamar mewah yang terasing dari dunia luar, akhirnya laki-laki yang menculiknya itu menampakkan diri. Rinaldi seorang laki-laki kaya raya yang ingin membalas dendam karena isterinya, diperkosa dan mati bunuh diri oleh ulah ayah Amanda yang mata keranjang.
Rinaldi ingin membuat pembalasan yang paling keji, ia telah menunggu 10 tahun untuk maksudnya itu. Dengan penculikan yang dilakukannya itu, ia ingin mneyiksa hati dan pikiran orang tua Amanda, menteror dan menciptakan tekanan-tekanan bathin guna membunuh direktur yang gemas mempermainkan wanita itu. Dalam kurun waktu sepuluh tahun menunggu dan menyusun rencana, ia merasa selalu dibisiki almarhum istrinya, Amanda, untuk tidak ragu membalas denda.
Novel "Bisikan Amalia bisa dibeli via on line ke INDIE PUBLISHING.COM. Atau ke penulis Yatti Sadeli HP. 081312588577.
Jumat, 14 Oktober 2011
SENJA DI PEKUBURAN CIKADUT
SENJA DI PEKUBURAN CIKADUT
/>
Cerpen ini dimuat di majalah Kartini no.1o6. terbitan 22 September 2011.
Leoni ……
sudah lama kulupakan nama itu, tapi baru saja aku menerima sms yang mengingatkan nama itu. Sms itu berisi pesan supaya aku datang di pekuburan Cikadut di pinggiran kota Bandung untuk menemui seorang wanita bernama Leoni. Yang mengirim pesan adalah Lie sahabatku, katanya lagi aku harus datang di tempat yang aku janjikan 20 tahun yang lalu. Hmm aku benar-benar lupa …. Tapi setelah diingat-ingat aku seperti terseret ke belakang ke kota Bandung 20 tahun yang lalu, ke sebuah pekuburan Cina yang amat indah, Pekuburan Cikadut.
Di tempat itulah pertama kali aku bertemu Leoni, disaat aku menghadiri pemakaman seorang teman, yang juga kerabat Leoni. Sejak itu aku menjalin hubungan cinta dengan Leoni. Hubungan yang tak berjalan mulus, hubungan cinta yang terlarang. Karena orang tuanya tak pernah menyetujui hubungan kami.
Aku yakin temanku cuma iseng mengingatkan janji itu, kupikir walau pun ada saksi atas janji aku dan Leoni, tapi Leoni tidak akan ingat janji itu. karena aku tahu keadaannya sekarang. Dia sibuk dengan urusan rumah tangga dan kegiatannya sebagai isteri pengusaha kaya, isteri seorang konglomerat terkenal di negeri ini. Aku sering melihat kegiatan sosialnya di televisi.
Iseng-iseng kuhubungi temanku yang mengirim sms itu lewat telepon.
“Kau jangan main-main teman!, Leoni tak mungkin mengingatku.”
Lie terbahak mendengar omonganku.
“Kau jangan pesimis!, Leoni pasti datang. Aku tahu dia.”
“Apa kau menghubunginya juga?” Tanyaku.
“Oh, sama sekali tidak!, mana aku tahu nomor teleponnya.”
“Kalau begitu kita lupakan saja.”
“Tidak, jangan begitu!. Kau harus datang ke Pekuburan Cikadut tepat jam empat sore tanggal 20 Januari. Karena itulah yang kalian janjikan 20 tahun yang lalu, kau ingat waktu itu tanggal 20 Januari l990.”
“Iya aku ingat, tapi …..kenapa kau mengingatnya juga?”
“Dulu, diam-diam kucatat di buku harianku janji kalian berdua itu. Buku harian itu kutemukan beberapa hari yang lalu. Aku seperti diingatkan. Dan sekarang aku penasaran ingin tahu, apa Leoni ingat akan janji yang diucapkannya duapuluh tahun yang lalu?”
“Tapi …..kedatanganku ke sana pasti sia-sia, karena ….. mana mungkin dia bisa datang.” Aku tak bisa meneruskan kata-kataku karena Lie segera memotong pembicaraanku.
“Tidak ada tapi, kau harus datang memenuhi janjimu. Selain itu kita ingin tahu apakah dia masih ingat janji yang diucapkannya dulu.”.
Tadinya aku tidak akan mengingatnya lagi tapi anehnya aku penasaran.
--/--
Jika terkenang pertemuan terakhir yang memilukan dengan Leoni di Pekuburan Cikadut 20 tahun yang lalu, hatiku tersedu jiwaku mengisak oleh goresan masa silam. Torehan luka di hatiku mengucurkan darah. Kalau sekarang aku tak kan memenuhi janjiku, rasanya tak kuasa lagi aku menginjak kota Bandung, kota kenangan yang membuat hidupku dulu merana karena cinta yang patah di tengah jalan. Tak pernah sekali pun aku menginjak kota itu selama 20 tahun semenjak aku terusir oleh orang tua Leoni. Tuan William Shen seorang pengusaha kaya pemilik pabrik textil terbesar di kota Bandung naik pitam karena puteri terkasihnya mencintai aku seorang karyawan miskin. Seorang buruh pabrik alangkah hina di mata Tuan Shen, bagaikan seonggok barang tak berharga, yang tak kan pernah punya masa depan yang cerah.
Sewaktu Tuan Shen menolak lamaranku serasa aku memasuki gerbang kematian. Seringkali aku mentertawakan diriku sendiri mengingat ketidak mampuanku menaklukan hati Tuan Shen yang sudah tua itu. Meskipun Leoni telah berjuang menyatakan aku adalah laki-laki yang sangat dicintainya, hati tuan Shen tak tergoyahkan.
Sewaktu aku meninggalkan rumah Tuan Shen cintaku masih menggebu-gebu padahal cintaku itu hanyalah merupakan suatu kegilaan karena walau pun cinta Leoni sama besarnya …. dirinya dan diriku tak mungkin bisa bersatu. Hati kami berdua selalu bersorak tentang harapan di ujung jalan cinta kami berdua . Pikir kami bukankah kemenangan cinta kami bisa diperjuangkan dengan sekuat tenaga? tapi jalan pikiran kami akhirnya meleset jauh karena orang tua Leoni begitu menghalangi dan semua berantakan.
Kami hanya punya satu kesempatan bertemu untuk yang terakhir kalinya yaitu di tempat pertama kali kami bertemu di Pekuburan Cikadut. Waktu itu dengan disaksikan sahabatku Lie - kami berjanji akan bertemu kembali di tempat itu 20 tahun yang akan datang.
Sekarang waktu yang dijanjikan itu tiba.
Kalau isteriku masih hidup tentu aku tidak akan pergi, kutakut isteriku akan cemburu karena ia tahu aku pernah menjalin hubungan cinta dengannya.
Dalam rentang waktu yang sangat lama itu, bukannya aku tidak pernah berjumpa. Aku pernah berjumpa dengannya 5 tahun yang lalu di kedutaan besar Indonesia di Amerika. Ia ke sana bersama suaminya dalam lawatan bisnis, dan aku berada di negeri itu dalam rangka menyelesaikan sekolahku dibidang management perusahaan. Terbayang dalam ingatanku ia kaget setengah mati aku berada di negeri itu, Tapi akhirnya ia sadar karena ia tahu aku, aku adalah pekerja keras, aku tak pernah mau ketinggalan. Walau pun dulu aku adalah buruh pabrik, tapi waktu itu aku bekerja sambil kuliah. Aku berhasil mencapai gelar kesarjanaanku dan aku bisa bekerja di tempat yang baik. Tempat yang bisa menyekolahkan aku di Amerika.
Waktu itu sejenak kami bertatapan, dan kulihat rona kesedihan di wajahnya. Kemudian kami saling menyapa dan ia sempat memperkenalkan suaminya kepadaku. Ia masih jelita walau pun katanya ia sudah mempunyai tiga orang anak.. Waktu itu kami tidak punya kesempatan bertemu kembali karena keesokkan harinya ia pulang ke Indonesia. Dan sejak itu aku benar-benar ingin melupakannya. Tak ada gunanya mengingat dia, tak ada untungnya bagiku, malah hati yang tersiksa. Demikian pikirku waktu itu.
Sekarang aku merasa ada yang aneh pada diriku setelah sahabatku mengingatkan janji itu. Wajah yang telah dilupakan itu kini muncul di pelupuk mataku, seakan mengikuti kemana langkahku pergi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi memenuhi janjiku, menemuinya di Pekuburan Cikadut!
Pekuburan Cikadut adalah sebuah pekuburan Cina yang sangat indah, terletak di perbukitan dengan jalan turun naik yang berliku-liku. Banyak pohon besar menaungi pusara berkubah dan bercungkup sangat indah, tempat persemayaman orang-orang yang tidak pernah tahu bahwa rumah mini di atasnya begitu elok.
Aku sampai di puncak pekuburan itu bersamaan dengan matahari senja yang bersinar keemasan.. Di senja itu seluruh areal pekuburan bermandikan cahaya matahari kuning cemerlang. Sebelum kakiku melangkah mencari tempat dimana aku dulu sering berjumpa dengan Leoni, aku berdiri dulu memandang ke bawah ke arah kota Bandung, ke arah rumah Tuan Shen nun jauh di sana. Dan sebelum pandang mataku tiba di sana melewati dulu kuburan-kuburan dengan arsitektur indah memenuhi perbukitan.. Kubah dan cungkup-cungkup bangunan di atas pusara tampak berkilauan. Pandangan mataku seperti melayang-layang di permukaan bumi, dan aku sama sekali belum merasakan kehadiran Leoni.
Aku menemukan tempat itu, tidak berubah sama sekali, kuburan engkongnya Leoni masih tetap seperti dulu, megah dan elok karena dilengkapi taman kecil dan kolam ikan hias. Hanya tak jauh dari sana ada pekuburan baru yang tak kalah cantik. Aku tidak memperhatikan kuburan itu, aku hanya duduk di tempat duduk yang disediakan bagi para pejiarah makam engkongnya Leoni.
Dahulu aku dan Leoni memilih tempat di pekuburan ini untuk bertemu, karena ini adalah tempat yang paling aman bagi kami. Orang tua Leoni tak pernah menyangka kalau puterinya sering menemuiku di sini.
Lama aku termenung mengingat-ingat masa lalu. Suasana sekeliling diriku begitu tenang semilir angina yang meniup dari arah timur, bisikannya begitu lembut seakan membisikkan sesuatu ke telingaku – menyampaikan berita bahwa dia tidak akan datang. Aku membalas bisikannya – biar saja dia tidak datang, aku tidak terlalu mengharapkan kedatangannya. Aku datang melaksanakan janji yang pernah kuucapkan dahulu juga aku datang karena aku ingin membuktikan kepatuhan janji seorang wanita.
Aku belum mau beranjak dari tempat dudukku walau pun waktu yang dijanjikan sudah lama berlalu. Mataku asyik menatap bayang-bayang tajam dedaunan pohon yang berdesir ditiup angin lalu. Aneh, perlahan-lahan dadaku dibebani rasa rindu yang tiada taranya. Ah, alangkah bodohnya aku ini, alangkah bodohnya! Merindukan bayangan yang tak kan terwujud menjadi suatu kenyataan . Leoni kini hanya bayangan yang harus segera kumusnahkan dari ingatanku, karena dia telah menjadi milik orang lain.
Aku melepas pandangan kearah bangunan indah peristirahatan engkongnya Leoni. Di situlah dulu Leoni sering berdoa supaya bisa berjodoh denganku.
Dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat lewat tigapuluh menit. Aku sudah akan beranjak pergi ketika terdengar suara seorang wanita.
“Kau jangan dulu pergi …… aku datang memenuhi janji.” Aku kaget ketika sesosok tubuh mucul dari balik pohon sebelah kiri bangunan kuburan baru. Aku menahan napas memperhatikan sosok tubuh yang berdiri di hadapanku. Aku tidak bisa bersuara, aku begitu tertarik untuk menatap matanya . Mata itu … oh! mata itu begitu indah, betapa mata itu berbicara begitu sarat tentang cinta, keindahan dan kerinduan yang lama terpendam . Baru sekarang aku bisa melihat lagi seraut wajah cantik yang begitu mempesona, kelembutan dan keanggunan terpadu pada dirinya. Aku segera sadar bahwa aku telah terbawa pesona wanita yang baru kulihat lagi setelah 20 tahun.
Aku tak menyangka Leoni akan datang. Aku memandangnya kagum, karena ia masih tetap cantik seperti dulu.
Aku menyalaminya kemudian membawanya ke tempat duduk.
“Firman …..” Ia memanggil namaku dengan bibir yang agak gemetar.
“Maafkan aku datang terlambat!”
“Enggak apa, akhirnya toh datang juga, tak kusangka ….” Kataku.
“Kalau aku merasa pasti kau akan datang.” Ia bergeser lebih mendekat. Kemudian meraih tanganku. Genggamannya erat sekali tapi kenapa tangannya terasa dingin?, mungkin karena udara saat itu sudah dingin menjelang sore.
“Sudah lama kau menungguku?” Tanyanya sambil menatap mataku.
“Kira-kira sejam yang lalu. Aku sudah hendak pergi karena menyangka kau tidak akan datang.”
“Kalau aku merasa yakin betul kau akan datang.”
“Kenapa kau begitu yakin aku akan datang?”
“Karena aku begitu menghendaki kedatanganmu. Aku selalu mengingat janji ini, karena setiap saat aku mengingatmu.” Aku tidak menyangka kalau akhirnya ia akan berkata seperti itu. Aku tidak berkata apa-apa lagi karena hatiku sangat sedih. Ia melanjutkan pembicaraannya.
“Aku menghitung hari dan tanggal setiap waktu, sampai lelah rasanya menantikan hari ini tiba. Bayangkan …..! 20 tahun!. Padahal sejak dulu aku yakin kau telah melupakan janji ini.”
“Aku rindu sekali padamu ….” Katanya sambil meraih tanganku, membawanya ke bibirnya dan membasahinya dengan air mata. Aku memeluknya dan menekankan kepalanya ke dadaku. Ia menangis dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengelus rambutnya dan berusaha menghentikan tangisnya.
“Mengapa seperti ini?” Tanyaku.
“Aku ….. hanya ingin kau tahu bahwa aku hidup dengan tiga orang anak dan seorang suami dalam satu rumah. Dengan harapan aku bisa membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia, tapi harapanku sia-sia, karena yang kukawini bukan seorang laki-laki yang aku cintai. Anak-anak lahir dari perkawinan itu, dan itu bukan anak dari bunga percintaan. Aku menyayangi mereka hanya kewajiban sebagai seorang ibu. Sebenarnya kasihan mereka.” Ia berbicara sambil sesekali mengusap air mata.
“Kau jangan menangis, kau harus bahagia memiliki anak dan suami. Aku sebaiknya kau lupakan saja.”
“Tidak, karena jiwaku selalu ada didekatmu.”
“Ah, yang benar saja …. kau toh bukan manusia yang bisa menghilang.” Heran bicara Leoni sekarang kedengaran aneh. Aku segera mengalihkan pembicaraan.
“Suami dan anak-anakmu sekarang dimana?”
“Ada di rumah di Jakarta.”
“Apa mereka tahu kau berada di sini sekarang.”
“Mereka semua tahu, tapi mereka tidak tahu kalau aku bertemu denganmu di sini.”
“Kenapa kau mementingkan pertemuan ini, padahal kalau ketahuan kita berdua bisa celaka.”
“Oh, tidak akan, jangan khawatir!.” Ia meraih tanganku seraya menghujamkan lagi tatapannya. Aku tidak bisa melepaskan tanganku yang melekat seakan tak bisa dilepaskan lagi. Dan jantungku berdegup kencang ketika ia berkata.
“Aku rindu sekali padamu.”
“Aku pun rindu padamu, tapi …..” Ia memotong pembicaraanku.
“Jangan diteruskan!” Katanya sambil menutup mulutku dengan jari tangannya. Aku meraih tangannya dan berupaya meneruskan ucapaku yang terpotong.
“Dengar, aku tidak ingin merusak rumah tanggamu ……”
Setelah itu dia diam lama sekali, seakan matanya tidak memandangku, tetapi jauh menembus ke kejauhan yang tiada batas. Duduknya kaku sekali, jari-jari tangannya dirapatkan dan ditempelkan ke bibirnya yang pucat. Ketika akhirnya ia berbicara lagi, suaranya dingin, seperti angin yang pertama bertiup di musim hujan.
“Aku kini sudah bebas ….”
“Apa kau sudah bercerai ?” Tanyaku dengan perasaan kaget.
“Ya …… semacam itulah.” Aku tak mengerti, tapi aku tak lagi bertanya-tanya karena hari sudah mulai gelap, matahari sudah tenggelam dan malam pun telah tiba.
Aku segera mengajaknya pulang. Dan ia pun menyetujuinya.
“Kita tidak bisa pulang sama-sama ….” Katanya. “Karena tak boleh ada yang melihat kita.”
“Benar ….” Kataku. “Kau pergilah lebih dahulu, mungkin sopirmu menunggu di bawah. Aku nanti pulang sendiri.”
Sebelum melangkah ia berkata lagi. “Ingatlah kata kataku …. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, aku hanya memintamu supaya kau mengenang diriku, dan datang sekali-kali ke sini bila kau sempat.” Aku mengangguk dan ia pun pergi.
Malam sudah tiba tapi aku belum mau beranjak dari tempat dudukku, aku ingin memberi keleluasaan pada Leoni, supaya ia tak ketahuan sopirnya kalau ia habis bertemu denganku di sini.
Aku kembali ke hotel tempatku menginap, rencanaku besok aku akan kembali ke Jakarta. Aku terkejut dengan kedatangan Lie, padahal tidak ada janji untuk bertemu di sini.
“Untung kau memberitahu alamat hotelmu.” Katanya.
“Ada apa?”. Tanyaku heran karena ia kelihatan begitu cemas.
“Kau jadi pergi ke pekuburan Cikadut?.”
“Aku baru datang dari sana. Tak kusangka ia benar-benar memenuhi janjinya.” Lie benar-benar terkejut mendengar penuturanku.
“Apa …..? bertemu Leoni?. Benar-benar tak masuk akal.”
“Memang aku juga tidak menyangka ia akan memenuhi janjinya setelah 20 tahun berpisah. “ Lie memandangku sambil mundur beberapa langkah ia ketakutan seperti melihat hantu.
“Kenapa ketakutan seperti itu, aku tidak berubah, aku tidak menemukan yang aneh-aneh di kuburan itu. Aku …. hmm, aku bahagia bertemu Leoni.” Aku akhirnya tertawa. Kemudian aku meneruskan omonganku.
“Benar juga saranmu, untuk datang di pekuburan Cikadut. Kalau tidak …. kasihan Leoni, jauh-jauh dia menyempatkan datang.”
“Benarkah ….?” Tanyanya seperti tak percaya.
“Kau kira aku bohong ….. Leoni datang sejam setelah keberadaanku di sana, ia minta maaf karena terlambat, setelah itu ……” Aku tidak meneruskan omonganku karena Lie melarangku.
“Jangan diteruskan!, bacalah ini ……!” Katanya sambil menyodorkan harian surat kabar.
Aku membaca berita yang sangat mengejutkan. Disana terpampang iklan duka cita yang memenuhi satu halaman surat kabar.
……………………………………………………………………………………
TELAH MENINGGAL DUNIA DENGAN TENANG PADA HARI SENIN, TANGGAL l0 JANUARI 2010 JAM 12.00 WIB. ISTERI, MAMAH, SAUDARI KAMI YANG TERCINTA
L A N N I O (LEONI)
DALAM USIA 45 TAHUN
………………………………………………………………………………………
Aku tidak meneruskan bacaanku. Aku gemetar, kemudian kulihat photo yang terpampang di sudut kiri. Oh ….. ini benar-benar Leoni, meninggal dunia l0 hari yang lalu Kalau begitu siapa yang kutemui di pekuburan Cikadut? *****
Bandung – Cijerah, Mei 2011
/>
Cerpen ini dimuat di majalah Kartini no.1o6. terbitan 22 September 2011.
Leoni ……
sudah lama kulupakan nama itu, tapi baru saja aku menerima sms yang mengingatkan nama itu. Sms itu berisi pesan supaya aku datang di pekuburan Cikadut di pinggiran kota Bandung untuk menemui seorang wanita bernama Leoni. Yang mengirim pesan adalah Lie sahabatku, katanya lagi aku harus datang di tempat yang aku janjikan 20 tahun yang lalu. Hmm aku benar-benar lupa …. Tapi setelah diingat-ingat aku seperti terseret ke belakang ke kota Bandung 20 tahun yang lalu, ke sebuah pekuburan Cina yang amat indah, Pekuburan Cikadut.
Di tempat itulah pertama kali aku bertemu Leoni, disaat aku menghadiri pemakaman seorang teman, yang juga kerabat Leoni. Sejak itu aku menjalin hubungan cinta dengan Leoni. Hubungan yang tak berjalan mulus, hubungan cinta yang terlarang. Karena orang tuanya tak pernah menyetujui hubungan kami.
Aku yakin temanku cuma iseng mengingatkan janji itu, kupikir walau pun ada saksi atas janji aku dan Leoni, tapi Leoni tidak akan ingat janji itu. karena aku tahu keadaannya sekarang. Dia sibuk dengan urusan rumah tangga dan kegiatannya sebagai isteri pengusaha kaya, isteri seorang konglomerat terkenal di negeri ini. Aku sering melihat kegiatan sosialnya di televisi.
Iseng-iseng kuhubungi temanku yang mengirim sms itu lewat telepon.
“Kau jangan main-main teman!, Leoni tak mungkin mengingatku.”
Lie terbahak mendengar omonganku.
“Kau jangan pesimis!, Leoni pasti datang. Aku tahu dia.”
“Apa kau menghubunginya juga?” Tanyaku.
“Oh, sama sekali tidak!, mana aku tahu nomor teleponnya.”
“Kalau begitu kita lupakan saja.”
“Tidak, jangan begitu!. Kau harus datang ke Pekuburan Cikadut tepat jam empat sore tanggal 20 Januari. Karena itulah yang kalian janjikan 20 tahun yang lalu, kau ingat waktu itu tanggal 20 Januari l990.”
“Iya aku ingat, tapi …..kenapa kau mengingatnya juga?”
“Dulu, diam-diam kucatat di buku harianku janji kalian berdua itu. Buku harian itu kutemukan beberapa hari yang lalu. Aku seperti diingatkan. Dan sekarang aku penasaran ingin tahu, apa Leoni ingat akan janji yang diucapkannya duapuluh tahun yang lalu?”
“Tapi …..kedatanganku ke sana pasti sia-sia, karena ….. mana mungkin dia bisa datang.” Aku tak bisa meneruskan kata-kataku karena Lie segera memotong pembicaraanku.
“Tidak ada tapi, kau harus datang memenuhi janjimu. Selain itu kita ingin tahu apakah dia masih ingat janji yang diucapkannya dulu.”.
Tadinya aku tidak akan mengingatnya lagi tapi anehnya aku penasaran.
--/--
Jika terkenang pertemuan terakhir yang memilukan dengan Leoni di Pekuburan Cikadut 20 tahun yang lalu, hatiku tersedu jiwaku mengisak oleh goresan masa silam. Torehan luka di hatiku mengucurkan darah. Kalau sekarang aku tak kan memenuhi janjiku, rasanya tak kuasa lagi aku menginjak kota Bandung, kota kenangan yang membuat hidupku dulu merana karena cinta yang patah di tengah jalan. Tak pernah sekali pun aku menginjak kota itu selama 20 tahun semenjak aku terusir oleh orang tua Leoni. Tuan William Shen seorang pengusaha kaya pemilik pabrik textil terbesar di kota Bandung naik pitam karena puteri terkasihnya mencintai aku seorang karyawan miskin. Seorang buruh pabrik alangkah hina di mata Tuan Shen, bagaikan seonggok barang tak berharga, yang tak kan pernah punya masa depan yang cerah.
Sewaktu Tuan Shen menolak lamaranku serasa aku memasuki gerbang kematian. Seringkali aku mentertawakan diriku sendiri mengingat ketidak mampuanku menaklukan hati Tuan Shen yang sudah tua itu. Meskipun Leoni telah berjuang menyatakan aku adalah laki-laki yang sangat dicintainya, hati tuan Shen tak tergoyahkan.
Sewaktu aku meninggalkan rumah Tuan Shen cintaku masih menggebu-gebu padahal cintaku itu hanyalah merupakan suatu kegilaan karena walau pun cinta Leoni sama besarnya …. dirinya dan diriku tak mungkin bisa bersatu. Hati kami berdua selalu bersorak tentang harapan di ujung jalan cinta kami berdua . Pikir kami bukankah kemenangan cinta kami bisa diperjuangkan dengan sekuat tenaga? tapi jalan pikiran kami akhirnya meleset jauh karena orang tua Leoni begitu menghalangi dan semua berantakan.
Kami hanya punya satu kesempatan bertemu untuk yang terakhir kalinya yaitu di tempat pertama kali kami bertemu di Pekuburan Cikadut. Waktu itu dengan disaksikan sahabatku Lie - kami berjanji akan bertemu kembali di tempat itu 20 tahun yang akan datang.
Sekarang waktu yang dijanjikan itu tiba.
Kalau isteriku masih hidup tentu aku tidak akan pergi, kutakut isteriku akan cemburu karena ia tahu aku pernah menjalin hubungan cinta dengannya.
Dalam rentang waktu yang sangat lama itu, bukannya aku tidak pernah berjumpa. Aku pernah berjumpa dengannya 5 tahun yang lalu di kedutaan besar Indonesia di Amerika. Ia ke sana bersama suaminya dalam lawatan bisnis, dan aku berada di negeri itu dalam rangka menyelesaikan sekolahku dibidang management perusahaan. Terbayang dalam ingatanku ia kaget setengah mati aku berada di negeri itu, Tapi akhirnya ia sadar karena ia tahu aku, aku adalah pekerja keras, aku tak pernah mau ketinggalan. Walau pun dulu aku adalah buruh pabrik, tapi waktu itu aku bekerja sambil kuliah. Aku berhasil mencapai gelar kesarjanaanku dan aku bisa bekerja di tempat yang baik. Tempat yang bisa menyekolahkan aku di Amerika.
Waktu itu sejenak kami bertatapan, dan kulihat rona kesedihan di wajahnya. Kemudian kami saling menyapa dan ia sempat memperkenalkan suaminya kepadaku. Ia masih jelita walau pun katanya ia sudah mempunyai tiga orang anak.. Waktu itu kami tidak punya kesempatan bertemu kembali karena keesokkan harinya ia pulang ke Indonesia. Dan sejak itu aku benar-benar ingin melupakannya. Tak ada gunanya mengingat dia, tak ada untungnya bagiku, malah hati yang tersiksa. Demikian pikirku waktu itu.
Sekarang aku merasa ada yang aneh pada diriku setelah sahabatku mengingatkan janji itu. Wajah yang telah dilupakan itu kini muncul di pelupuk mataku, seakan mengikuti kemana langkahku pergi. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi memenuhi janjiku, menemuinya di Pekuburan Cikadut!
Pekuburan Cikadut adalah sebuah pekuburan Cina yang sangat indah, terletak di perbukitan dengan jalan turun naik yang berliku-liku. Banyak pohon besar menaungi pusara berkubah dan bercungkup sangat indah, tempat persemayaman orang-orang yang tidak pernah tahu bahwa rumah mini di atasnya begitu elok.
Aku sampai di puncak pekuburan itu bersamaan dengan matahari senja yang bersinar keemasan.. Di senja itu seluruh areal pekuburan bermandikan cahaya matahari kuning cemerlang. Sebelum kakiku melangkah mencari tempat dimana aku dulu sering berjumpa dengan Leoni, aku berdiri dulu memandang ke bawah ke arah kota Bandung, ke arah rumah Tuan Shen nun jauh di sana. Dan sebelum pandang mataku tiba di sana melewati dulu kuburan-kuburan dengan arsitektur indah memenuhi perbukitan.. Kubah dan cungkup-cungkup bangunan di atas pusara tampak berkilauan. Pandangan mataku seperti melayang-layang di permukaan bumi, dan aku sama sekali belum merasakan kehadiran Leoni.
Aku menemukan tempat itu, tidak berubah sama sekali, kuburan engkongnya Leoni masih tetap seperti dulu, megah dan elok karena dilengkapi taman kecil dan kolam ikan hias. Hanya tak jauh dari sana ada pekuburan baru yang tak kalah cantik. Aku tidak memperhatikan kuburan itu, aku hanya duduk di tempat duduk yang disediakan bagi para pejiarah makam engkongnya Leoni.
Dahulu aku dan Leoni memilih tempat di pekuburan ini untuk bertemu, karena ini adalah tempat yang paling aman bagi kami. Orang tua Leoni tak pernah menyangka kalau puterinya sering menemuiku di sini.
Lama aku termenung mengingat-ingat masa lalu. Suasana sekeliling diriku begitu tenang semilir angina yang meniup dari arah timur, bisikannya begitu lembut seakan membisikkan sesuatu ke telingaku – menyampaikan berita bahwa dia tidak akan datang. Aku membalas bisikannya – biar saja dia tidak datang, aku tidak terlalu mengharapkan kedatangannya. Aku datang melaksanakan janji yang pernah kuucapkan dahulu juga aku datang karena aku ingin membuktikan kepatuhan janji seorang wanita.
Aku belum mau beranjak dari tempat dudukku walau pun waktu yang dijanjikan sudah lama berlalu. Mataku asyik menatap bayang-bayang tajam dedaunan pohon yang berdesir ditiup angin lalu. Aneh, perlahan-lahan dadaku dibebani rasa rindu yang tiada taranya. Ah, alangkah bodohnya aku ini, alangkah bodohnya! Merindukan bayangan yang tak kan terwujud menjadi suatu kenyataan . Leoni kini hanya bayangan yang harus segera kumusnahkan dari ingatanku, karena dia telah menjadi milik orang lain.
Aku melepas pandangan kearah bangunan indah peristirahatan engkongnya Leoni. Di situlah dulu Leoni sering berdoa supaya bisa berjodoh denganku.
Dan tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat lewat tigapuluh menit. Aku sudah akan beranjak pergi ketika terdengar suara seorang wanita.
“Kau jangan dulu pergi …… aku datang memenuhi janji.” Aku kaget ketika sesosok tubuh mucul dari balik pohon sebelah kiri bangunan kuburan baru. Aku menahan napas memperhatikan sosok tubuh yang berdiri di hadapanku. Aku tidak bisa bersuara, aku begitu tertarik untuk menatap matanya . Mata itu … oh! mata itu begitu indah, betapa mata itu berbicara begitu sarat tentang cinta, keindahan dan kerinduan yang lama terpendam . Baru sekarang aku bisa melihat lagi seraut wajah cantik yang begitu mempesona, kelembutan dan keanggunan terpadu pada dirinya. Aku segera sadar bahwa aku telah terbawa pesona wanita yang baru kulihat lagi setelah 20 tahun.
Aku tak menyangka Leoni akan datang. Aku memandangnya kagum, karena ia masih tetap cantik seperti dulu.
Aku menyalaminya kemudian membawanya ke tempat duduk.
“Firman …..” Ia memanggil namaku dengan bibir yang agak gemetar.
“Maafkan aku datang terlambat!”
“Enggak apa, akhirnya toh datang juga, tak kusangka ….” Kataku.
“Kalau aku merasa pasti kau akan datang.” Ia bergeser lebih mendekat. Kemudian meraih tanganku. Genggamannya erat sekali tapi kenapa tangannya terasa dingin?, mungkin karena udara saat itu sudah dingin menjelang sore.
“Sudah lama kau menungguku?” Tanyanya sambil menatap mataku.
“Kira-kira sejam yang lalu. Aku sudah hendak pergi karena menyangka kau tidak akan datang.”
“Kalau aku merasa yakin betul kau akan datang.”
“Kenapa kau begitu yakin aku akan datang?”
“Karena aku begitu menghendaki kedatanganmu. Aku selalu mengingat janji ini, karena setiap saat aku mengingatmu.” Aku tidak menyangka kalau akhirnya ia akan berkata seperti itu. Aku tidak berkata apa-apa lagi karena hatiku sangat sedih. Ia melanjutkan pembicaraannya.
“Aku menghitung hari dan tanggal setiap waktu, sampai lelah rasanya menantikan hari ini tiba. Bayangkan …..! 20 tahun!. Padahal sejak dulu aku yakin kau telah melupakan janji ini.”
“Aku rindu sekali padamu ….” Katanya sambil meraih tanganku, membawanya ke bibirnya dan membasahinya dengan air mata. Aku memeluknya dan menekankan kepalanya ke dadaku. Ia menangis dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengelus rambutnya dan berusaha menghentikan tangisnya.
“Mengapa seperti ini?” Tanyaku.
“Aku ….. hanya ingin kau tahu bahwa aku hidup dengan tiga orang anak dan seorang suami dalam satu rumah. Dengan harapan aku bisa membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia, tapi harapanku sia-sia, karena yang kukawini bukan seorang laki-laki yang aku cintai. Anak-anak lahir dari perkawinan itu, dan itu bukan anak dari bunga percintaan. Aku menyayangi mereka hanya kewajiban sebagai seorang ibu. Sebenarnya kasihan mereka.” Ia berbicara sambil sesekali mengusap air mata.
“Kau jangan menangis, kau harus bahagia memiliki anak dan suami. Aku sebaiknya kau lupakan saja.”
“Tidak, karena jiwaku selalu ada didekatmu.”
“Ah, yang benar saja …. kau toh bukan manusia yang bisa menghilang.” Heran bicara Leoni sekarang kedengaran aneh. Aku segera mengalihkan pembicaraan.
“Suami dan anak-anakmu sekarang dimana?”
“Ada di rumah di Jakarta.”
“Apa mereka tahu kau berada di sini sekarang.”
“Mereka semua tahu, tapi mereka tidak tahu kalau aku bertemu denganmu di sini.”
“Kenapa kau mementingkan pertemuan ini, padahal kalau ketahuan kita berdua bisa celaka.”
“Oh, tidak akan, jangan khawatir!.” Ia meraih tanganku seraya menghujamkan lagi tatapannya. Aku tidak bisa melepaskan tanganku yang melekat seakan tak bisa dilepaskan lagi. Dan jantungku berdegup kencang ketika ia berkata.
“Aku rindu sekali padamu.”
“Aku pun rindu padamu, tapi …..” Ia memotong pembicaraanku.
“Jangan diteruskan!” Katanya sambil menutup mulutku dengan jari tangannya. Aku meraih tangannya dan berupaya meneruskan ucapaku yang terpotong.
“Dengar, aku tidak ingin merusak rumah tanggamu ……”
Setelah itu dia diam lama sekali, seakan matanya tidak memandangku, tetapi jauh menembus ke kejauhan yang tiada batas. Duduknya kaku sekali, jari-jari tangannya dirapatkan dan ditempelkan ke bibirnya yang pucat. Ketika akhirnya ia berbicara lagi, suaranya dingin, seperti angin yang pertama bertiup di musim hujan.
“Aku kini sudah bebas ….”
“Apa kau sudah bercerai ?” Tanyaku dengan perasaan kaget.
“Ya …… semacam itulah.” Aku tak mengerti, tapi aku tak lagi bertanya-tanya karena hari sudah mulai gelap, matahari sudah tenggelam dan malam pun telah tiba.
Aku segera mengajaknya pulang. Dan ia pun menyetujuinya.
“Kita tidak bisa pulang sama-sama ….” Katanya. “Karena tak boleh ada yang melihat kita.”
“Benar ….” Kataku. “Kau pergilah lebih dahulu, mungkin sopirmu menunggu di bawah. Aku nanti pulang sendiri.”
Sebelum melangkah ia berkata lagi. “Ingatlah kata kataku …. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku, aku hanya memintamu supaya kau mengenang diriku, dan datang sekali-kali ke sini bila kau sempat.” Aku mengangguk dan ia pun pergi.
Malam sudah tiba tapi aku belum mau beranjak dari tempat dudukku, aku ingin memberi keleluasaan pada Leoni, supaya ia tak ketahuan sopirnya kalau ia habis bertemu denganku di sini.
Aku kembali ke hotel tempatku menginap, rencanaku besok aku akan kembali ke Jakarta. Aku terkejut dengan kedatangan Lie, padahal tidak ada janji untuk bertemu di sini.
“Untung kau memberitahu alamat hotelmu.” Katanya.
“Ada apa?”. Tanyaku heran karena ia kelihatan begitu cemas.
“Kau jadi pergi ke pekuburan Cikadut?.”
“Aku baru datang dari sana. Tak kusangka ia benar-benar memenuhi janjinya.” Lie benar-benar terkejut mendengar penuturanku.
“Apa …..? bertemu Leoni?. Benar-benar tak masuk akal.”
“Memang aku juga tidak menyangka ia akan memenuhi janjinya setelah 20 tahun berpisah. “ Lie memandangku sambil mundur beberapa langkah ia ketakutan seperti melihat hantu.
“Kenapa ketakutan seperti itu, aku tidak berubah, aku tidak menemukan yang aneh-aneh di kuburan itu. Aku …. hmm, aku bahagia bertemu Leoni.” Aku akhirnya tertawa. Kemudian aku meneruskan omonganku.
“Benar juga saranmu, untuk datang di pekuburan Cikadut. Kalau tidak …. kasihan Leoni, jauh-jauh dia menyempatkan datang.”
“Benarkah ….?” Tanyanya seperti tak percaya.
“Kau kira aku bohong ….. Leoni datang sejam setelah keberadaanku di sana, ia minta maaf karena terlambat, setelah itu ……” Aku tidak meneruskan omonganku karena Lie melarangku.
“Jangan diteruskan!, bacalah ini ……!” Katanya sambil menyodorkan harian surat kabar.
Aku membaca berita yang sangat mengejutkan. Disana terpampang iklan duka cita yang memenuhi satu halaman surat kabar.
……………………………………………………………………………………
TELAH MENINGGAL DUNIA DENGAN TENANG PADA HARI SENIN, TANGGAL l0 JANUARI 2010 JAM 12.00 WIB. ISTERI, MAMAH, SAUDARI KAMI YANG TERCINTA
L A N N I O (LEONI)
DALAM USIA 45 TAHUN
………………………………………………………………………………………
Aku tidak meneruskan bacaanku. Aku gemetar, kemudian kulihat photo yang terpampang di sudut kiri. Oh ….. ini benar-benar Leoni, meninggal dunia l0 hari yang lalu Kalau begitu siapa yang kutemui di pekuburan Cikadut? *****
Bandung – Cijerah, Mei 2011
Jumat, 23 September 2011
senja di pekuburan cikadut
"Senja Di pekuburan Cikadut" adalah cerpen terbaru saya, dimuat di majalah Kartini no 2305 edisi 22 Sept, 2011.
Ada kepuasan bathin tersendiri bila karya tulis bisa terbit di majalah terkenal. Bukan karena bakal terima honor tapi itu namaku terpampang sebagai pengarang.
Senja di pekuburan cikadut bercerita tentang seorang laki-laki yang suka bertemu kekasihnya gadis Tionghoa di sebuah pekuburan nan indah Cikadut. Karena cintanya tidak kesampaian mereka berdua membuat suatu perjanjian yaitu keduanya akan bertemu lagi 20 tahun mendatang di tempat yang sama yaitu di pekuburan cikadut.
Pekuburan nan indah itu menjadi saksi bisu akan sebuah janji sepasang kekasih.
Mungkinkah mereka bisa bertemu 20 tahun kemudian?,
Ada kepuasan bathin tersendiri bila karya tulis bisa terbit di majalah terkenal. Bukan karena bakal terima honor tapi itu namaku terpampang sebagai pengarang.
Senja di pekuburan cikadut bercerita tentang seorang laki-laki yang suka bertemu kekasihnya gadis Tionghoa di sebuah pekuburan nan indah Cikadut. Karena cintanya tidak kesampaian mereka berdua membuat suatu perjanjian yaitu keduanya akan bertemu lagi 20 tahun mendatang di tempat yang sama yaitu di pekuburan cikadut.
Pekuburan nan indah itu menjadi saksi bisu akan sebuah janji sepasang kekasih.
Mungkinkah mereka bisa bertemu 20 tahun kemudian?,
Langganan:
Postingan (Atom)










